Jumat, 12 Maret 2010

Analisis data

ANALISIS DATA

A. TINJAUAN PENGARANG
1. Riwayat Hidup Pengarang
Dalam penelitian suatu karya sastra, merupakan merupakan hal yang sangat penting. Berhasil tidaknya suatu karya tergantung daripada luas tidaknya wawasan yang dimilikinya. Bahkan kejelian pengamatan terhadap sendi-sendi kehidupan yang amat kompleks ini akan sangat membantu. Oleh karena itu, segala aspek yang menyangkut diri pengarang perlu sekali untuk diperhatikan. Mungkin latar belakang kehidupan keluarganya, bahkan masalah-masalah yang amat sulit pun apabika perlu dan sangat membantu tidak ada salahnya untuk diketahui. Hal ini penting mengingat banyak kemungkinan yang terjadi tentang proses kelahiran karya sastra itu sendiri dengan kehidupan pengarang. Ad suatu hubungan klausal yang meyangkut dirinya maupun orang lain sehubungan dengak eksistensinya di dalam masyarakat.
Dari orientasi tersebut di atas maka absalah apabila dalam penelitian ini akan memaparkan tentang riwayat hidup seorang pengarang yang cukup produktif bernama Senggono. Selama ini mungkin belum ada biografi yang lengkap bahkan mungkin juga belum ada yang menulis perihal seluruh riwayat hidup Senggono, sehingga tidak banyak yang dapat di ungkapkan seluk beluk tentang dirinya. Balai Pustaka sendiri yang merupakan penerbit dan tempat dari karya-karya Senggono belum pernah mencatat hal itu. Ini disebabkan hasil karyanya yang tidak dimasukkan dalam penerbitan tersebut. Namun demikian tidaklah menjadikan orang menutup mata sama sekali untuk mengetahui riwayat hidupnya.
Kelahiran Senggono tidak di pulau Jawa walaupun karya-karyanya banyak yang berbahasa Jawa. Senggono lahir di Kotabumi pada tanggal 13 Juni 1924 Lampung Utara dari seorang anak mandor B. O. W. (sekarang PU). Kemudian pernah mengenyam pendidikan tamatan sekolah Vervolgscool (bukan golongan yang boleh masuk H. I. S). Kemudian meneruskan ke C. V. O. (Cursus Voor de Volksonderwijzers = sekolah guru 2 tahun). Di C. V. O. ini ia bergaul dengan teman-teman yang berasal dari Gadingrejo sebuah desa di daerah Lampung Utara. Setelah tamat dari sekolah C. V. O tersebut sambil menunggu pengangkatan, ia sering bergaul dengan seorang guru swasta cabang Xaverius Pringsewu. Kemudian dari sini banyak pengalaman melihat pagelaran wayang kulit. Beberapa lama kemudian sebelum pecah perang (kurang lebih tahun 1941) diangkat menjadi guru. Kemudian pada tahun 1952 pindah ke Jakarta masuk Balai Pustaka dan diterima sebagai staf redaksi Jawa. Di Balai Pustaka itu juga banyak mengambil kursus baik lisan maupun tertulis. Berkat PGAN kemudian dapat mencapai SMP bagian A, sedang SMAnya gagal.
Sebelum ke Jakarta, juga pernah menulis pada majalah Jayabaya yang pada waktu itu masih berbahasa Indonesia. Dlam tulisannya itu mendapat juara pertama mengarang Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia pada tahun 1951, dan dari keberhasilannya mengarang akhirnya dapat membawa bekerja di Balai Pustaka. Sering juga menulis pada majalah Sekolah Kita terbitan Kementrian PP dan K khusus untuk guru-guru. Karangan pertama dalam bahasa Jawa berjudul Ula “ular” dimuat dalam rubric Taman Putra Panyebar Semangat. Tulisan-tulisannya juga banyak dimuat dalam majalah-majalah dari Surabaya, Yogyakarta, dan Jakarta, seperti majalah Jayabaya, Panyebar Semangat, Waspada, Mekarsari, dan Kumandhang.
Kemudian sebelum tanggal 14 Agustus 1964 kembali ke Lampung, bekerja dan pada tahun 1980 Senggono pension dari Direktorat Pembangunan Desa Tingkat I Lampung, dan sampai sekarang ia tinggal dan menetap di Lampung dengan istri dan delapan putranya.
2. Latar Belakang Sosio Budaya Pengarang
Kehadiran latar belakang sosio budaya pengarang menjadi penting artinya untuk memahami karya sastra. Dimensi-dimensi social budaya yang melingkupi pengarang, lingkungan hidupnya menjadi latar belakang bagaimana dia termotivasi dalam menampilkan citra sastranya. Pengaruh social budaya yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, dan adapt istiadat dan kemampuan-kemampuan lain, serta kebiasaan-kebiasaan yang didapat olehg manusia sebagai anggota masyarakat tidak mungkin dihindari oleh pengarang untuk mempengaruhi dan mewarnai corak karya sastra yang diciptakannya.



a. Sikap Budaya Pengarang
Senggono yang sejak kecil bergumul dengan peradaban atau budaya Jawa, pola pikir bahkan sikap hidupnyapun tidak jauh dari jiwa kejawaan. Walaupun kelahirannya di tempat yang jauh dari asal mula peradaban tersebut, namun pribadinya begitu dekat dan pola hidupnya selalu bernafaskan Jawa. Memang kelahirannya adalah di Lampung, akan tetapi apakah peradaban serta sikapnya merupakan pencerminan suku Lampung? Untuk dapat menjawab pertanyaan tersebut kiranya dapat dilihat ke belakang suatu peristiwa pada masa colonial Belanda.
Awal dari imperialisme dan kolonialisme di Asia adalah disebabkan oleh soal rezeki, keinginan untuk memenuhi kebutuhan hidup Negara asal. Pertama-tama yang dating ke Indonesia adalah bangsa Portugis, kemudian disusul oleh Belanda. Di pulau Jawa Belanda menduduki cukup lama, sehingga bangsa ini melihat pertumbuhan penduduk Jawa sangat pesat. Hal ini akan mengakibatkan makin menyempitnya tanah yang ditempati, dan akan mengakibatkan berkurangnya hasil dari pulau ini. Untuk itu pemerintah Belanda mempunyai kebijaksanaan untuk memindahkan penduduk Jawa ke pulau lain. Hal ini atas pertimbangan di pulau lain masih jarang penduduknya dan menyediakan tempat untuk pemukiman cukup luas. Dalam pemindahan ini dipimpin langsung oleh Hyting seorang ahli kependudukan Belanda (dalam Poerboadiwidjojo, 1986:9) ia mengusulkan suatu system yang pokok adalah :

1. Membangun desa-desa inti (kern desa-desa) dengan jumlah penduduk 500 kk (kepala keluarga).
2. Setiap desa inti, pada desa inti diberi bantuan secukupnya agar ekonomi mereka lebih kuat dan selanjutnya desa-desa inti itu diharapkan dapat menjadi basis para kolonis baru untuk membuka daerah sekitarnya. Rencana itu kemudian dilaksanakan tahun 1905. Desa pertama sebagai desa percobaan adalah Gedongtataan, kira-kira 25 km di sebelah Tanjungkarang. Desa ini dibangun menurut pola Jawa. Sampai pada tahun 1911 dibangun sampai 5 desa inti termasuk juga Gadingrejo. Segala sesuatunya diatur seperti di Jawa termasuk struktur pemerintahan dengan kamituwa, lurah, asisten wedana yang berlainan dengan berstruktur pemerintahan masyarakat sekitarnya yang merupakan masyarakat adapt (Edi Swasono, 1986 : 10).
Dari latar belakang tersebut dapat diketahui bahwa masyarakat Sumatera umumnya dan masyarakat Lampung khususnya didominasi oleh masyarakat Jawa. Bahkan karena adapt dan kebiasaan masih dipertahankan, penduduk asli memandangnya sebagai orang yang tidak dikenal atau orang asing yang kehadirannya tidak disukai. Hal ini dapat dilihat dari pendapat H.J. Heeren yang menyatakan :
Meskipun para imigran Jawa kini jumlahnya melebihi penduduk asli Lampung, orang-orang Lampung masih memandang penduduk asal Jawa itu sebagai orang-orang asing yang kehadirannya tidak disukai dan adapt istiadatnya tak dipahami. Maka nampaknya salah satu kesulitan bagi asimilasi diantara suku-suku di beberapa Negara di Asia adalah kuatnya kesetiaan pada suku sendiri, hal mana mengurangi penyerapan secara penuh dan malahan menimbulkan sugresi atau pemisahan (dalam Edi Swasono, 1986 : 95).
Jadi mereka tetap menjaga jarak mengenai perbedaan pandangan maupun cara hidupnya, bahkan mengenai pembagian pemukimanpun mereka membuat pemukiman tersendiri, sehingga membuat perbedaan yang jelas antara pemukiman imigran dengan penduduk asli. Ini juga dipertegas oleh Heeren (dalam Edi Swasono, 1986 : 95).
Tempat-tempat pemukiman para imigran dan penduduk asli Sumatra sampai sekarang tetap dalam keadaan terisolasi secara sosial dan kultural yang tidak menunjukkan pertanda apapun tentang adanya perubahan yang tetap.
Walaupun mereka nampaknya satu wadah atau tempat, namun dalam kenyataan ada suatu pemisahan diantara mereka atau sugregasi yang membutuhkan waktu tidak sedikit bahkan memakan waktu yang lama sekali untuk mengadakan perubahan untuk berasimilasi.

Kemudian bagaimana sikap Senggono dalam menghadapi maslah tersebut? Konflik-konflik sosial yang ada pada masyarakat tersebut memang mempengaruhi pola pikir dan perilakunya. Dalam hal-hal yang bersifat umum yang kedua pihak (masyarakat Lampung dan perkembangan masyarakat Jawa di Lampung) saling menyepakati dan tidak adanya suatu keterikatan dalam interaksi sosial tidak mengalami masalah. Bahkan dalam generasi selanjutnya sudah nampak adanya penyesuaian-penyesuaian diantara mereka.
Lain dengan Senggono, ia lahir sewaktu orang-orang masih terkubur oleh adat lama yang pada umumya pemikiran-pemikirannya masih nampak sederhana sekali. Sehingga adapt dan aturan-aturan masih ditanamkan pada diri anak-anak mereka namun bagi Senggono menghadapi situasi yang demikian bukanlah suatu masalah, bahkan ia begitu erat dengan budaya Jawa yang memuat akan pandangan-pandangan atau falsafah-falsafah Jawa, seperti bahwa dalam perkawinan itu orang mencari hari, syarat-syarat tertentu. Kemudian juga harus memperhitungkan bobot, bibit, dan bebet. Walaupun ia sendiri kurang setuju hal-hal tersebut. Kemudian mitos-mitos Jawa seperti gugon tuhon dan juga untuk nguri-uri ‘memelihara dan merawat’ budaya Jawa umumnya dan bahasa Jawa khususnya. Berdasarkan penggambaran tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa Senggono yang memiliki asal-usul sosial yaitu budaya Jawa akan tetap menentukan ideology dan kesetiaan sosialnya yang telah membentuknya.
Senggono sebagai anggota masyarakat yang bermukim dalam suatu komunitas perikehidupan pedesaan merasa ikut bertanggungjawab dalam usaha pelestarian kebudayaan yang dimiliki masyarakatnya terutama masyarakat Jawa.

b. Kedudukan Pengarang Sebagai Seorang Seniman
Telah disinggung dalam bab pertama bahwa akar budaya seorang pengarang tidak mungkin terlepas dari bumi berpijak. Meskipun ia membuat jarak antara dirinya sebagai pengarang dengan dirinya sebagai anggota masyarakat biasa untuk dapat menangkap moment estetis yang unik, yang tidak tertangkap oleh masyarakat biasa. Maksudnya adalah bahwa ada suatu kelebihan yang ada pada diri pengarang yang dalam masyarakat sendiri mungkin tidak memiliki kelebihan itu. Suatu kelebihan yang dapat mengolah dan mengetuk yang tertangkap dalam suatu karya untuk dirinya sendiri maupun untuk orang lain. Bahkan dapat membuat suatu perubahan baik secara sadarmaupun tidak sadar yang didalamnya terkandung suatu nilai yang sangat berguna untuk orang banyak. Selain hal di atas masih ada lagi yaitu kegelisahan sosial masyarakat yang terasa juga, yang mendenyut mewarnai dari kreativitasnya. Demikian juga yang terjadi dalam periode 60-an dimana merupakan saat-saat yang menunjukkan kesuburan karya sastra Jawa gagrak anyar ‘gaya baru’ yang begitu menjamur. Periode tersebut, kegelisahan sosial nampak mencuat sebagai tema yang amat dominan. Dominasi tema kegelisahan sosial tersebut dapat dilihat dari karya-karya yang muncul seperti novel, puisi, cerita bersambung dan cerita pendek. Hal ini wajar sebab pada masa itu bangsa Indonesia baru saja lepas dari penjajah, sehingga perubahan sosial, politik, ekonomi, dan budaya merupakan hal yang wajar. Khusus mengenai perubahan budaya ini merupakan hal yang sangat peka sebab menyangkut masalah yang paling hakiki dalam kehidupan manusia. Pengaruhnya pada masa itu amat terasa sekali, kepincangan sosial, harga diri, maupun eksistensi kemanusiaan amat terancam. Hal ini akan menyentuh sastrawan sehingga mewarnai kreativitasnya.
Dalam sastra Jawa, kedudukn Senggono seangkatan dengan pengarang R. harjawiraga, R. M. Ng. Sri Hadidjaya, Any Asmara, Purwono P.H, Widi Widayat, dan lain-lain. Ia tergolong pengarang yang cukup produktif di masa itu. Berikut ini hasil karya Senggono yang pernah muncul berdasarkan arsip-arsip yang ada pada pengarang, yaitu :
1. Yen Aku Bisa Kandha, Panyebar Semangat, 1954
2. Sinopsis Kasuwek, Waspada, 24 Maret 1956
3. Pangestumu, Geguritan, Waspada, 22 Mei 1956
4. Kembang Kanthil, Novel, Balai Pustaka, 1957
5. Kemandang, Novel, Balai Pustaka, 1958
6. Bali, Cerita Pendek, Surabaya
7. Korban, Waspada
8. Ngetan Mbalik Ngulon
9. Jantung Kesuduk
10. Ula, Cerita Pendek, Panyebar Semangat
11. Mas Teguh Sing Teguh, Cerita Pendek
12. Jugrug, Geguritan, Waspada
13. Isih Pinarting Eling, Geguritan
14. Cengkar, Cerita pendek
15. Jerit Saka Gubug, Cerita Pendek
16. Kubur Kang Sesak, Cerita Pendek

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar